zoom

Hutang RI Menumpuk?? Neoliberal??

My friend wrote his opinion regarding foreign debt and neoliberal – hot issues nowadays in Indonesia. I like his writing and I think he does make sense. If you got a Facebook account, add him and click here to see the original note. It’s in Bahasa and I am too lazy to translate it.

This is the reason why I support the incumbent, ultimately his running mate!

——————————————————————————-

Baru kemarin (3/6) saya melihat iklan itu di TV…
ttg penumpukan hutang Indonesia, yg dihitung2 mencapai 7 juta rupiah per kapita.
Buat saya, iklan tersebut cukup berbahaya, sebagaimana tertera dlm status FB di halaman Profile saya…
Hanya dlm wkt kurang dr 1 jam, komentar maupun tanda "jempol" (like) berdatangan di Status saya, seperti layaknya Manohara yg diserbu stasiun TV utk wawancara… (alah, lebay!).
Nah, ini note utk menjelaskan kepada publik, kenapa iklan tersebut tidak mencerdaskan bangsa…
Bagi yg merasa terlalu teknis, maafkan… bs lgsg di-skip ke kesimpulan.
Bagi tmn2 yg lebih ngerti ekonomi, maafkan kalo banyak salah… maklum, kompre aja blm… hehehe
Bagi tmn2 yg ga setuju, good, ini demokrasi. Asal jgn marah2, mencemarkan nama baik, or bawa2 SARA ya (kaya debat tim sukses beberapa hr lalu)…
Bagi aparat, kalau ada pihak yg tersinggung, jgn lgsg main cekal dgn basic UU ITE!!!
OK, gini…
Sebelum mengatakan iklan itu benar, salah, keren, or justru menyesatkan, let’s take a look at this:

Undang2 no.17 thn 2003 tentang Keuangan Negara
UU ini mengatur hal2 seperti total defisit APBN tidak boleh lebih dari 3% Gross Domestic Product (GDP) dan rasio hutang juga tidak boleh lebih dari 60% dari GDP.

Debt-to-GDP Ratio Indonesia
2001 – 77%
2002 – 67%
2003 – 61%
2004 – 56%
2005 – 47%
2006 – 39%
2007 – 36%
2008 – 33%
2009 – 32% (s/d Maret)
sumber: Dirjen Pengelolaan Hutang

Karena saya ini bukan ahli ekonomi, apalagi makroekonomi, maka saya cm mencoba mengedepankan sudut pandang saya sebagai wong cilik pelaku ekonomi mikro yg coba menerapkan prinsip2 bisnis ke dalam suatu negara…

Dupont Analysis
Kalau Anda baca buku2 management keuangan (entah itu karangan Keown, Ross, Fabozzi, Riley, or siapalah itu), tentu ada yg dinamakan Financial Leverage (pengungkit keuangan), sebuah besaran yg nilainya ditentukan dari rasio Total Asset per Total Equity.
Sekedar penyegaran, coba kita liat dulu yg namanya Return on Equity (ROE).
ROE adalah persentase laba per total modal (equity), atau gampangnya seluruh return yg diperoleh pemegang saham (entah itu dibagikan sbg dividend atau tidak). Dalam investasi, rasio ini adl. yg paling penting (Buffet, 1995).
Berdasarkan Dupont Analysis, Return on Equity dijabarkan sbb:

ROE = Return on Asset x Financial Leverage

ROE = Total Asset Turnover x Net Profit Margin x Financial Leverage

Apabila FL = 1, berarti perusahaan tsb tidak punya hutang, krn Asset perusahaan dibiayai seluruhnya dari modal sendiri (Equity), sehingga ROA = ROE
Apabila FL = 2, berarti asset perusahaan nilainya 2 kali lipat equity, yg berarti hutang (debt) sama besar dgn equity.

Sementara itu, kita jg ketahui bahwa pertumbuhan (growth) laba perusahaan adalah fungsi dari ROE, di mana

g = ROE x % laba ditahan

sehingga pertumbuhan perusahaan sangat ditentukan oleh ROEnya…
Nah, berarti si Leverage ini (yg sumbernya dari hutang) digunakan utk mendongkrak pertumbuhan.

So, apa hubungannya sih dgn hutang negara?
Just so simple, hutang digunakan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Then, hutang itu bagus or not?
Simple jg, semua yg berlebihan itu ga baik.
Jadi, ada titik yg optimal, ada titik yg kurang optimal, dan ada jg titik maksimal or berlebihan.
Titik optimal adalah ketika level hutang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Titik maksimal adalah batas level hutang yg tertinggi yg tidak boleh terlampaui, krn faktor resiko yg tinggi. (High risk – high return)…

Trus, baiknya level hutang itu berapa?
Wah, ini kuncinya…
kalo utk company sih, liat Dupont analysis di atas. Gampangnya, leverage itu memang tujuannya mendongkrak ROE, yg tujuan akhirnya mendongkrak growth. Hanya saja, perlu diperhatikan bhw hutang ini jangan sampai:
1. Tidak produktif, sehingga menurunkan rasio Revenue thdp Asset (Total Asset Turnover).
–> hal ini bisa saja terjadi apabila nilai Asset meningkat krn meningkatnya hutang, namun tidak disertai produktifitas penjualan (revenue) perusahaan.
2. Menurunkan Net Profit, oleh karena beban bunga yg tinggi.
(nomor 1 & 2, pada akhirnya malah menurunkan ROE jg)
3. Tidak sesuai dgn tipikal organisasi
–> perbankan dan lembaga keuangan jelas memiliki leverage yg tinggi, namun perusahaan seperti manufaktur, pasti tingkat leverage jauh lebih rendah.
Nah, untuk negara, mari kita lihat di bagian berikut ini.

Hutang Negara yg Optimal
Menurut Smyth, David J & Hsing, Yu (1995), level hutang yang optimal adalah 48,9% dari GDP.
(dihitung dr GDP, krn kalo hitung dari asset negara, tentu sulit menghitung besaran asset negara)
Apakah angka ini dapat diterima begitu saja? tentu harus dicermati lebih lanjut, apakah hutang tersebut hutang dalam negeri or hutang luar negeri.
Secara kasat mata, berdasarkan teori yg ada, rasio Indonesia sbsr 32% adalah level yang aman.
Berdasarkan data Bloomberg, Jepang pun rasio Debt-to-GDP bahkan mencapai hampir 200%. Namun, perlu dicatat bhw mereka:
1. itu hutang mayoritas duit rakyatnya sendiri
2. beban bunganya rendah, krn interest rate di Jepang rendah bgt, sekitar 1% or bahkan mendekati 0%

Ada beberapa cara spy dlm hal financing, negara kita lebih bergantung pada negara sendiri daripada internasional:
1. Langkah mengurangi hutang luar negeri dan lebih mengoptimalkan hutang dalam negeri.
–> mengapa ini rada bermasalah? krn yield (return atau interest rate) di negeri kita sangat tinggi. Lebih murah utk meminjam dr negara lain yg yieldnya lebih rendah. (tapi catatan nih, global bonds yg terakhir itu sih kegedean yieldnya!!!)
2. Berkaitan dgn nomor 1, bagaimana menurunkan interest rate (yield)
–> yang saya tahu, interest rate dipengaruhi oleh tingkat inflasi dan tingkat resiko suatu negara. Kalau negara ini inflasinya rendah, resiko bisnis di negara ini rendah, disertai likuiditas pasar modal yg baik, tentu yield jg rendah. Hal ini krn return (yield) yg diharapkan oleh investor or kreditor adalah = suku bunga bebas resiko + risk premium… risk bisa berupa resiko likuiditas, resiko usaha, resiko politik-keamanan, etc.
Dengan menerbitkan obligasi2 semacam SUN versi retail (ORI) maupun SUKUK (obligasi Syariah) versi retail, niat pemerintah sudah menunjukkan arah yg baik. Pertama, adanya pembelajaran bagi masyarakat ttg alternatif "menaruh uang" selain nabung di bank… Kedua, ya itu, meningkatkan partisipasi dana domestik dlm rangka mengurangi porsi dana pinjaman asing.

Kesimpulan
Meskipun hutang kita meningkat, dan angkanya tampak menyeramkan, namun rasio hutang thdp GDP sebesar 32% sudah turun jauh daripada tahun 2001 sebesar 77%.
Ini berarti resiko keuangan negara jg berkurang. Dan angkanya sudah jauh dari amanat U
U no 17 thn 2003 (ambang batas 60%).
Gampangnya gini, mendingan punya utang 7 juta dgn gaji 20 juta, daripada punya hutang "cuma" 5 juta dgn pendapatan 10 juta…
Tentu proses pengurangan rasio ini tidak lepas dari pelunasan hutang kepada IMF dan pembubaran CGI.

Tapi hal ini ga cukup!
PR pemerintah selanjutnya adalah bagaimana lebih meminjam dari rakyatnya daripada dari pinjaman asing. Perlu diketahui, dari penambahan hutang pemerintah selama 5 thn terakhir sebesar Rp392 T, Rp264 T di antaranya berasal dari hutang domestik, berarti "masih" ada sebesar Rp128T dari pinjaman asing
Tentu hal2 spt ini masih harus diusahakan lebih baik lagi.

BTW, apapun bisa dijadikan komoditas politik ya di hari2 ini…
Hutang kek, Ambalat kek, kasus Prita, or mgkn nanti Manohara jg…
Hal lain… kawan bisa jadi lawan –> wapres bisa jd capres saingan.
Mantan lawan bisa jadi kawan –> Thn 2004 mengeluarkan isu Jenderal (militerisme), sekarang merekrut Jenderal sbg cawapresnya…

PS: Neolib
Saat ini banyak org yg bicara bahkan latah bicara ttg "Neoliberalisme ekonomi", terlepas dari mengerti atau ga. Mgkn note ini ga banyak membahas ttg Neolib.
Akhir dari note ini cm menunjukkan bahwa ga perlu kita sembarangan teriak neolib, krn bisa jd orang2 terdekat kita jg terlibat atau termasuk tertuduh dgn istilah/hal tsb.

Jadi, apa hubungannya dgn hutang luar negeri?
Menurut sebagian tokoh, hutang luar negeri adalah salah satu bentuk ketergantungan kita dgn luar negeri, dan menjauhkan diri dari kemandirian ekonomi… dan menurut sebagian tokoh, lepasnya kemandirian ekonomi menyebabkan kita "disetir" oleh pihak lain (negara lain or lembaga donor) sehingga ekonomi kita menjadi pasar bebas, seperti pembebasan tarif impor, jual2 BUMN, menggelar "karpet merah" pada investasi asing, dsb yg (katanya) kemudian menjadi ekonomi neoliberal.
Kemudian, istilah ini dibangun terus-menerus utk jadi "senjata" kampanye partai or pihak tertentu.

Ekonomi Kerakyatan
Menurut saya, ekonomi itu mesti pro-rakyat. Ini hal yg tidak bisa ditawar2 lagi…
Pro rakyat caranya banyak:
- Program kpd UKM, spt program Kredit Usaha Rakyat (KUR),
- pendidikan gratis, peningkatan kesehatan
Tapi apa yg disebut "pro-rakyat" itu jangan dibenturkan atau dibedakan dgn "pro-pasar" or "pro-pengusaha"… Why? krn:
1. "pasar" terbesar tidak lain dan tidak bukan adalah "rakyat" itu sendiri, dan tugas pemerintah adalah menjadi juri-wasit-hakim-regulator yg adil dan tegas, spy pasar ini mampu mensejahterakan bangsa (Basri, 2006).
Mnrt saya, daripada teriak2 "kerakyatan", lebih baik gimana caranya menghapus kemiskinan dgn meningkatkan pendidikan & kesehatan, serta bagaimana meningkatkan kemudahan/infrastruktur untuk mengakses informasi, karena asymetric information adalah sumber utama penyebab kemiskinan (Stiglitz, 1997).
2. "pro-pengusaha" hrs diterjemahkan jg sbg "pro-rakyat"… mengutip seorang Capres yg jg pengusaha, "siapa lagi yg mau menciptakan lapangan kerja kalo bukan saudagar atau pengusaha"
Model yg saya kembangkan, based on model Sollow modified dan Audretch & Thurik (2004):
Y = f (K, L, H, E)
Output perekonomian-Y, adalah fungsi dari Capital-K, Labor-L, Human Capital-H, dan juga Entrepreneurship-E (Christmas, 2009).

Perlu dicatat jg, bhw isu2 neolib yg ditujukan kepada Cawapres tertentu saat ini akar2nya berasal dari (alm.) Prof.Sumitro Djojohadikusumo (ayah salah seorang Cawapres yg kubunya getol menuding Cawapres lain sbg neolib).
Sebagai begawan ekonomi Indonesia, beliau kerapkali dituduh sbg "dedengkot Mafia Berkeley" yg katanya membangun dan menyebarkan sistem/paham neolib di Indonesia, yg dipandang membawa Indonesia kepada kehancuran, bergantung kepada asing, etc.
{*Catatan: Berkeley sbnrnya adalah kampus yg trmsk yg rada pro government intervention, mirip2 Keynesian. Sedangkan pembela ekonomi super-liberal ada di Univ.of Chicago or sering disebut Chicago School, dgn tokoh2 spt Milton Friedman, Eugene Fama, yg kebanyakan penentang John Maynard Keynes. (baca: Bloomberg Magazine, edisi Maret 09).}

Nah, sebelum teriak2 di kampanye, "Sistim ekonomi kita, SALAH!"… adakah kemungkinan untuk bilang "Rakyatku, maafkan ayah saya…sistim ekonomi yg Ayah saya bangun, SALAH!" ???

Mohon masukannya teman2… thanks.

Regards,
Eduardus Christmas
PT Enervolution
Founder & CEO

——————————————————————————————————

Bookmark and Share

2 Responses to “Hutang RI Menumpuk?? Neoliberal??”

  1. fey says:

    saya link y post yg ini…
    tx

Leave a Reply

comments-bottom